by

Bagian 1 : Belajar dari Ayub dan COVID19

Oleh Sultan Alam Gilang Kusuma

Salah satu orang yang dipercaya membawa syariat Tuhan adalah Nabi Ayub a.s. Orangnya terkenal sabar dan penyayang. Oleh karena itu, Tuhan membanggakan Nabi Ayub kepada segenap makhluk-Nya mulai dari pepohonan, hewan, malaikat bahkan para setan.

Menanggapi “pembanggaan” Tuhan atas nabi Ayub, setan yang berjiwa pembangkang tentu membantah, menantang Tuhan dengan mengatakan, “Tuhan, Engkau tak perlu membanggakan Ayub-Mu. Dia sabar dan baik budi karena hidup serba  kecukupan. Saya sangsi apakah Ayub tetap memperlihatkan sikap terpuji jika Engkau menimpakan ujian kemelaratan dan kenistaan.”

Mendapatkan  kesangsian setan, Tuhan  lantas membuktikan keutamaan mahkluk-Nya yang bernama Nabi Ayub ini. Nabi Ayub yang semula kaya raya, akhirnya dibangkrutkan Tuhan. Ayub yang asalnya banyak putra, akhirnya satu persatu dicabut nyawanya hingga tak ada sisa. Nabi Ayub yang tadinya gagah, sehat wal afiat, akhirnya di timpakan  penyakit  yang tak ada obatnya. Badannya membusuk, bahkan  belatung telah  menempel masuk. Bau  menjadi sangat busuk. Istri-istrinya, satu persatu  meninggalkannya, kecuali hanya satu yang setia, yang justru paling cantik diantara semua. Lebih menyakitkan lagi, akibat bau  busuk yang amat menyengat, Nabi Ayub malah diasingkan masyarakat yang tadinya memuja dan menghormatinya. Ia hidup terpencil dalam  sebuah  gua.

Ada 4 peristiwa penting terkait dengan musibah Ayub ini ;

  1. Bagi orang kebanyakan, musibah beruntun seperti ini akan sangat mungkin membuatnya gila atau bunuh diri akibat putus asa. Tapi, bagi orang yang sekualitas  Nabi Ayub soal keimanan, dia menerima segala cibaan dengan tawakkal dan bijaksana. Tak mungkin bagi dirinya untuk berobat, karena tak satupun orang yang mau mendekat, kecuali istri satu-satunya.
  2. Dalam keterpurukan dan ketersiksaan, Ayub tetap ingat dan taat kepada Allah. Ia selalu rajin bermunajat, bukan berdoa untuk kesembuhan tapi berdoa agar  diberik ketabahan dan menerima segala ujian
  3. Setiap kali akan shalat, ia mencabut puluhan belatung yang menempel di lukanya, tapi sama sekali tak mematikannya. Adalah pantangan baginya, membunuh sesama makhluk hidup ciptaan Tuhan tanpa sesuatu alasan. Bahkan, setiap selepas sholat, belatung dikembalikan ke tempatnya, bekas lukanya, agar mereka tetap dapat menikmati hak hidupnya sebagaimana hak mendapatkan pangan seperti dirinya\
  4. Akhirnya Ayub memanjatkan doa agar diberi kesembuhan, dia berdoa bukan berarti tak tahan pada cobaan , melainkan ingin melaksanakan sumpahnya menghukum istrinya.

Bagian Kedua : Hikmah Ayub dan COVID19

Comment

PERDANANEWS