by

Bagian 2 : Belajar dari Ayub dan COVID19

Oleh Sultan Alam Gilang Kusuma

Peristiwa Ayub mengandung banyak hikmah yang patut untuk direnungkan apalagi disaar krisis pandemi COVID19 ini ;

  1. Ketika seorang menerima banyak musibah, bencana, mestinya orang tak lantas menudingnya akibat banyak dosa sehingga mendapat kutukan dari Tuhan. Segala musibah dan bencana terjadi akibat dan kemungkinan. Pertama, mungkin musibah itu memang sebagai teguranau bahkan hukuman Tuhan, akibat orang yang bersangkutan  telah terlalu banyak melakukan dosa. Oleh karena itu, orang yang terkena bencana hendaknya berusaha mengevaluasii diri, membenahi diri, memohon ampun atas segala dosa kepada Ilahi. Kedua, mungkin segala bencana itu sebagai cobaan dari Tuhan untuk menguci ketabahan dan keimanan. Kenestapaan Nabi Ayub mislanya, tentu  saja bukan wujud teguran (hukuman) tapii sebagai cobaan . Sebab,  bila Allah ingin menguji hamba-Nya niscaya akan ditimpa berbagai kemalangan dan  cobaan.

Dalam konteks kenegaraan, cobaan (ujian) dan atau teguran (hukuman) mungkin pula dapat terjadi. Indonesia yang saa ini mengalami kemalangan, kemelut,krisis, dan berbagai bencana perlu disikapi dengan dua perspektif tadi, yakni sebagai hukuman akibat tingkah laku kolektif masyarakt dan pemimpinnya yang banyak dosa ataukah sebagai ujian terhadap masyarakat dan pemimpinnya yang umumnya beriman dan memilik akhlak mulia, kiranya bangsa Indonesia , secara kolektif, mau mengevaluasi diri.

  • Ujian yang diberikan Tuhan kepada umat manusia ada dua macam  jenisnya ; pertama, berupa kesenangan. Apakah orang yang diberi nikmat kesenangan mau bersyukur, atau justru menjadi lupa diri dan kian jauh dari Ilahi, serta memanfaatkan berkah hanya untuk hura-hura dan maksiat kepada-Nya. Dalam hal ini Allah telah mengingatkan,

“Lain Syakartum la azidannakum walainkafartum inna adzabii lasyadiid ; Jika engkau bersyuukur ayas nikmat yang Ku-berikan maka aku akan menambahi nikmat-Ku kepadamu, tapi jika engkau ingkar maka sungguh siksa-Ku sangat pedih”

Dalam konteks ini peristiwa Qorun patut direnungkan, karen aketika diberi ujian berupa kekayaan, Qorun justru menjadi serakah, pelit, dan arogan. Oleh karenanya Tuhan lantas menghukumnya, membenamkan Qorun dan segala kekayaannya. Kedua, ujian  kesusahan berupa sakit dan kemelaratan. Bagi kaum beriman, kesusahan dinikmati sebagai kasih sayang Tuhan  karena Allah telah menguji dirinya, dan bila ia lulus berarti kian tinggi makom derajatnya. Dalam  hal penyakit misalnya Nabi Ayub malah menyatakan bahwa sakit hakekatnya sebagai proses pembakaran dosa. Siapapun yang sakit tapi sabar tak ngresulo (mengeluh) , maka berguguranlah dosa-dosanya.

Namun bagi yang tak kuat iman, ia menyikapi ujian Tuhan dengan cara melanggar aturan. Akibat kemiskinan misalnya, seseorang justru melakukan pencurian,perampokan, bahkan ada yang rela menjual iman, menukar agama dengan harta. Menyimak orang model ini, kiranya tepat sabda Rasulullah SAW “Kefakiran  mendekatkan pada kekufuran.”

Comment

PERDANANEWS