by

Bagian 3 : Belajar dari Ayub dan COVID19

Oleh Sultan Alam Gilang Kusuma

Melanjutkan bagian 2 tentang hikmah-hikmah yang dapat diambil dalam  kisah Nabiyullah Ayub a.s.  Kisahnya dapat dibaca pada bagian 1 ;

  1. Kesusahan tak lantas menyebabkan orang beriman berbuat aniaya kepada “sesama”. Nabi Ayub memberi contoh, bahwa kendati sakit parah, kasih sayangnya kepada sesama termasuk hewan sekalipun  tetap ia wujudkan. Memang, apa yang dilakukan Nabi Ayub terhadap belatung di badannya adalah sesuatu yang amat sangat sulit diteladani oleh manusia biasa. Namun, sikap Nabi Ayub itu setidaknya memberi hikmah bawa rasa kasih sayang terhadap binatang (seperti juga digambarkan pada kisah sebelumnya) adalah merupakan satu perwujudan dari sebuah keimanan.

“Irhamuu man fil ardi, yarhamakum man fissamaai,”  sayangilah segala yang ada dibumi, niscaya yang ada dilangit akan menyayangimu.

  • Kesetiaan istri Nabi Ayub kepada suami adalah wujud dari kesalehan yang patut diteladani. Terkait persoalan  ini, kiranya menarik untuk menyimak satu ajaran dalam  masyarakat Indonesia bahwa suami istri dalam terminologi Jawa misalnya, disebut garwo singakatan dari sigaraning nyowo (belahan jiwa). Oleh karena itu, dapat dipahami jika pola hubungan suami istri mestinya berpola suargo nunut, neroko katut (ke surga ikut, ke neraka juga ikut). Maksudnya, susah senang ditanggung bersama. Bagi kalangan wanita, persepsi ini banyak ditentang, terutama implikasi dari sikap sebagian  lelaki (suami) yang arogan tinggi hati.

Namun, sebagai sebuah ideologi berumah tangga, ajaran itu jika diresapi justru sangat mulia. Hal ini persis telah dicontohkan istri Nabi Ayub kepada suaminya, bahwa ketika hidup senang mereka bersama menikmati , dan ketika hidup susah mereka bersama menjalani. Subhanallah, tak berlebihan jia Rasulullah SAW sampai bersabda, “Sebaik-baik perhiasan adalah istri yang shalehah”.

  • Sebuah janji harus ditepati, dan sebuah sumpah (nazar) harus dipenuhi, persis seperti yang dilakukan Nabi Ayub kepada Istrinya. Dalam  konteks Islam, janji adalah hutang yang harus dibayarkan, al wa’duddaiinun. Dalam konteks Islam pula, pelanggaran terhadap sumpah hukumnnya berat, memilih salah satu dari tiga tebusan, yakni ; membebaskan hamba sahaya (dalam konteks kekinian barangkali termasuk membebaskan orang yang terjerat hutang, sehingga terbudak), puasa 60 hari, atau membei makan 60 fakir miskin sampai kenyang. Tebusan  nazar ( sumpah ) memang berat, oleh karena itu jangan terlalu gampang bernazar. Namun, perlu dicermati, bahwa doa kebaikan kepada Tuhan, biasanya akan  lebih cepat dikabulkan, bila diiringi dengan nazar berbuat kebaikan pula.

Comment

PERDANANEWS