by

COVID-19 dan Hilangnya Kemanusiaan

Setelah hampir lima bulan lamanya hadir mengguncangkan dunia global, belum sepenuhnya tampak perubahan besar  terkait penanggulangan Corona Virus Disease atau COVID-19 dari 209 negara yang terjangkiti virus ini. Dari layar-layar berita serta ramai-ramai ada media sosial, tampak hanya China yang kini telah melewati masa-masa krisis akibat virus ini, sebab Wuhan sebagai titik awal penyebaran virus tidak lagi menerapkan sistem Lockdown. Sedangkan negara-negara seperti Italia, Iran, Inggris, serta Amerika Serikat belum menampakkan banyak perubahan serta masih berkutat penuh untuk memutus rantai virus yang begitu cepat bertransimisi dari manusia ke manusia lainnya.

          Virus ini tidak hanya membunuh nyawa manusia yang saat ini telah tembus 1 jutaan orang  meninggal, tetapi juga meninggalkan dampak kerugian di berbagai lini, apalagi mereka yang tergolong negara berdaya saing rendah dapat dipastikan semua lini lumpuh. Kemudian mulai dari ekonomi global, regional dan lokal yang melemah dan mengindikasikan runtuh, kemudian disusul kerugian finansial suatu negara dan masyarakat hingga tidak sedikit negara-negara yang harus mendapat bantuan dari IMF atau negara lain akibat kekurangan anggaran untuk menanggulangi pandemi ini.

          Hari ini kita saksikan, begitu banyak orang yang berperan dan maju di garda-garda terdepan untuk mengabdikan diri kepada bangsa dan negara mereka masing-masing. Semua pihak bahu membahu membangun kepercayaan dan solidaritas, seruan untuk berta’awun antar sesama manusia, serta berkontribusi meski hanya dengan hal yang kecil seperti mengikuti anjuran pemerintah untuk berdiam diri dirumah.

          Tapi, tidak sedikit pula kita saksikan di masa-masa yang sulit seperti ini adanya pihak dan individu-individu yang kehilangan moralitas dan kemanusiaan. Banyak dari kita yang begitu panik sehingga hanya mementingkan keselamatan pribadi kebanding keselamatan bersama. Tidak usah jauh-jauh, di negeri kita Indonesia kita temui hal-hal ini dan tidak sedikit yang melakukan seperti itu. Beberapa waktu lalu misalnya, di beberapa tempat melakukan penolakan jenazah korban COVID-19 karena ketakutan tertular, adapula yang habis memborong barang-barang di pasar dan supermarket untuk menimbunnya dirumah sehingga tidak menyisakan sedikitpun untuk mereka yang tergolong kalangan menengah kebawah dan miskin serta contoh-contoh lain yang menampakkan dengan jelas hilangnya kemanusiaan dalam pribadi sebuah bangsa.

          Dan inilah faktanya dan masalahnya, didalam kondisi sulit orang-orang seperti itu justru terlahir dan begitu ekspos di tengah-tengah masyarakat. Orang-orang yang kehilangan moralitas dan kemanusiaan karena mementingkan diri sendiri sangat merugikan kehadirannya. Padahal seharusnya di masa seperti ini, tidak boleh seorang  manusia pun yang mengedepankan egoisme pribadi demi keselamatannya sendiri.

          Saya yakin dan percaya, jika kita tetap saling berta’awun serta saling menyeru untuk sabar dalam menghadapi pandemi ini kemudian berikhtiar dengan mengikuti protokol serta arahan pemerintah sebagai bagian dari kontribusi kita terhadap masalah ini, dengan begitu masalah yang sedang dihadapi dunia global dan umat manusia hari ini akan segera kita lewati.

          Sudah saatnya membangun mindset baru, saling berkontribusi dan tolong menolong sebagai bangsa yang besar. Pemerintah mengambil bagian sebagai garda terdepan melindungi rakyatnya dengan segala kebijakan strategis dan tepat sasaran menanggulangi masalah ini, para tenaga kesehatan serta dokter-dokter harus terus kita support karena menjadi aktor paling penting dalam pergulatan dengan pandemi ini, rakyat dan masyarakat luas harus membuka pikiran untuk saling berkontribusi dengan apa saja yang dapat dilakukan seperti mengikuti protokol pemerintah untuk stay at home.

Jiaoyu Indonesia, kita yakin dan percaya, masih ada tangan-Nya yang senantiasa mengulurkan rahman dan rahim-Nya kepada umat manusia sebagai khalifatu fil ardh.

PERDANANEWS